DIATAS LANGIT ADA LANGIT
Dalam suatu acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Mesjid Istiqlal Tahun 1980, ketika itu zaman masih bernama orde baru dan pemimpinnya adalah orang kuat bernama Soeharto, berbicaralah seorang ulama besar yang faham dan pemikirannya masih hidup sampai sekarang, ulama itu telah lama meninggalkan kita semua menghadap kehadiratNya, beliau adalah Haji Abdul Malik Karim Amarullah yang lebih populer dengan panggilan Buya Hamka. Acara yang dihadiri oleh ribuan umat Islam termasuk didalamnya Kepala Negara beserta Menteri Kabinet saat itu dan disiarkan langsung oleh TVRI serta disaksikan oleh jutaan pasang mata seantero Negeri ini.
Sungguhpun acara itu sudah lama berlalu, tetapi isi dan makna yang disampaikan oleh Buya Hamka dalam membawa ajaran tentang kedudukan manusia ini masih relevan sampai saat ini, inilah sebagian ceramah Buya Hamka dengan gaya bahasa dan suara serak serak basah, Islam itu indah, dia mengajarkan hubungan yang sakral antara makhluk dengan khalidNya, kita dapat mengambil hikmah dibalik ucapan bahasa yang ada, simaklah kata Buya Hamka apa yang diucapkan didalam shalat, kita memulainya dengan kalimah “Allahu Akbar,” bibir mengucapkan kalimah suci, hati bergetar dengan ucapan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar jika dibaca dengan hati dan pemahaman yang dalam akan menyadarkan manusia akan posisi siapa Saya, simaklah kehidupan dunia ini, ketika orang diangkat menjadi Lurah, mula-mula berubah segala gaya kehidupannya, seakan-akan tak ada lagi orang yang lebih besar dari padanya yang dulunya ramah kini sudah pendiam seperti orang sakit gigi, jalan dielok-elokkan, kening dikerut-kerutkan seperti orang berfikir keras, tak hanya dirinya yang berubah, anak dan keluarga ikut-ikutan pula berubah total, tak lama sesudah diri merasa terlalu besar, datanglah Camat ketempat Lurah itu, menekur Kepala Lurah tadi, berkeringat dingin badan rasanya, karena merasa diri yang tadinya besar kini terasa kecil, rupanya ada yang lebih tinggi dari jabatan yang dimiliki.
Maklumlah seorang Camat, disaku ada “menggo” bertengger, pergi ke kantor sudah dengan mobil ber plat merah, sudah pakai supir segala, mula-mula seperti “kuduang” dapat cincin, sudah lempang pula tangan berjalan, sudah menghadap kemata hari pula ketika berjalan, seakan akan diri sudah yang terbesar, rupanya dihadapan Bupati menggigil lutut Pak Camat, berlinang-linang saja air mata, terasa diri sangat kecil, lunglai jalannya sesudah itu, tak lama sesudah Bupati merasa seperti seorang raja, karena ketika bicara tak ada yang menyanggah, makan dan minum dibiayai Negara, pakai ajudan dan sespri segala, ruangan pakai AC pendingin, mobil begitu pula, rumah pakai pengaman, dalam mematut-matut diri datanglah panggilan Pak Gubernur, tak tentu arah Bupati jadinya, entah apa pula kesalahan yang diperbuat, sempit kerongkongan dirasakan, bergegas dia datang menghadap, disusunnya jari dihadapan Gubenur, diletakkan tangan diatas paha, dilurusksannya ujung sepatu, ditanya satu dijawab satu, tiap sebentar dilap juga kening oleh Pak Bupati, karena peluh datang tanpa diundang, terasa benar kecil dirinya.
Tak menunggu waktu yang begitu lama dipanggil pula Gubernur oleh Presiden, agak kaku suara yang memanggil, tergopoh-gopoh Pak Gubernur mempersiapkan segala sesuatu, dipanggil ini dipanggil itu sebagai bahan yang akan dibawa, segala urusan yang lain ditinggalkan, tak lama sesudah itu, diruangan tamu Kepala Negara duduklah Gubernur menunggu titah dari sang Presiden, berpeluh dingin Gubenur dibuatnya, terasa benar kecilnya diri, selesai titah sang Presiden Gubernur pergi dan tinggallah Presiden dalam kesendirian, sedang merenung-renung diri, terdengarlah suara azan berkumandang, bergegas Pak Presiden mengambil wuduk, lalu ditelentangkannya sajadah, diangkat kedua tangan dan diucapkan Allahu Akbar, khusuk shalat sang Presiden dia rukuk dan dia sujud menghambakan diri kehadiratNya, dalam nuansa itu terasa diri menjadi kecil, itu pertanda bahwa masih ada yang paling besar ialah Allah SWT.
Didalam Mesjid yang begitu besar, diisi oleh orang-orang yang merasa besar, hening bagai ditengah malam buta, semua terpaku menyadari akan isi yang disampaikan, karena semua yang diperkatakan oleh Buya Hamka benar adanya, seakan akan ceramah itu menyindir siapa saja yang mendengar saat itu.
Ceramah itu sudah lama berlalu yang menyampaikan sudah dialam barzah, sebagian yang mendengar telah banyak pula yang dipanggil menghadapNya, tetapi isi ceramah masih dapat dijadikan sebagai cermin pengukur diri, masih relevan untuk menyadarkan akan “siapa Saya,” masih dapat dijadikan sebagai reverensi, bahwa diatas langit masih ada langit, bahwa hidup akan berputar, tak ada yang abadi didunia ini yang hari ini diatas pada saatnya akan dibawah juga, paling tidak ketika ajal menjemputnya, dia akan dikubur diperut bumi, oleh karena itu untuk apa sombong dengan jabatan dan harta yang dimiliki, karena pada akhirnya dia akan meninggalkan kita juga, atau kita yang meninggalkannya, untuk apa pula mengganggap diri terlalu besar dan terlalu tinggi, karena pasti ada yang lebih tinggi dan besar dari yang dimiliki, diatas langit pasti ada langit lagi. ***
Entri Populer
-
Buat anda yang ingin mengucapkan sesuatu yang special untuk kekasih anda sebelum tidur ada baiknya anda menyiapkan sebuah kata kata roma...
-
Cerita Sedih Tentang Ibu Cerita Sedih Tentang Ibu - Ini adalah cerita sedih tentang Ibu yang mungkin dapat menjadi inspirasi bagi kita yan...
-
DIATAS LANGIT ADA LANGIT Dalam suatu acara Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Mesjid Istiqlal Tahun 1980, ketika itu zaman masih bernama o...
-
expect something that has been lost. . . :-)) Gimana Yah, , susah nih buat ngungkapin ma kata", , hehe. .
-
Parampaa Land Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Perubahan tertunda ditampilkan di halaman ini Belum Diperiksa Langsung ...
-
Lucas Scott Qoute's -“Regret comes in all shapes and sizes. Some are small like when we do a bad thing for a good reason. Some are bi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar